Megawati: PDI-P tegas tolak Pilkada dikembalikan ke DPRD, khianati reformasi

- Admin

Wednesday, 14 January 2026 - 10:56 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penolakan ini bukan sekadar sikap politik praktis, melainkan sikap ideologis, konstitusional, dan historis partai.

JAKARTA: Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menegaskan sikap tegas partainya menolak wacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah (  Pilkada  ) dari pemilihan langsung oleh rakyat menjadi pemilihan melalui DPRD. 

Penegasan itu disampaikan saat penutupan Rakernas I PDI Perjuangan Tahun 2026 di Jakarta, Senin (12/1), seperti dilansir Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“PDI Perjuangan menolak secara tegas setiap wacana pemilihan kepala daerah secara tidak langsung melalui DPRD. Penolakan ini bukan sekadar sikap politik praktis, melainkan sikap ideologis, konstitusional, dan historis,” tegas Megawati.

Dari partai delapan politik di DPR, sejauh ini hanya PDI Perjuangan yang menyatakan persetujuan terbuka terhadap wacana tersebut. 

Partai Demokrat yang sebelumnya  menolak  mekanisme Pilkada melalui DPRD justru berbalik arah dan setuju dengan  Gerindra  , Golkar, PAN, PKB, serta NasDem. 

Sementara itu, PKS masih abu-abu. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad Kholid mengatakan bahwa partainya masih mencari sistem terbaik terkait Pilkada.

PILKADA DPRD LANGKAH MUNDUR DEMOKRASI

Megawati menilai Pilkada langsung merupakan pencapaian penting demokratisasi nasional pasca-Reformasi. Mekanisme tersebut lahir dari perjuangan panjang rakyat untuk merebut kembali hak politik setelah puluhan tahun dibatasi oleh sentralisme kekuasaan.

Menurut Presiden kelima Republik Indonesia itu, pemilihan kepala daerah melalui DPRD merupakan praktik masa lalu yang tidak menjamin penguatan demokrasi maupun akuntabilitas kekuasaan. Ia juga berpendapat bahwa sistem perwakilan dapat menekan biaya politik.

“Sebaliknya, Pilkada langsung membuka ruang partisipasi rakyat, memperkuat legitimasi pemimpin daerah, serta menghadirkan kontrol sosial terhadap kekuasaan lokal. Oleh karena itu, mekanisme ini harus dipertahankan,” tuturnya.

Baca Juga :  Guna Mensukseskan Yubelium 75 Tahun Gereja Katolik Stasi Kigou, Pemuda Kibitamona Gelar Berbagai Kegiatan

Megawati menyebut sikap konsistensi PDI Perjuangan menolak Pilkada melalui DPRD merupakan bagian dari komitmen ideologis agar demokrasi tidak bergerak mundur. Ia menekankan Reformasi tidak boleh dikikis secara perlahan dengan alasan apa pun.

“Reformasi tidak bisa dibatalkan secara perlahan. Reformasi harus dijaga, diperkuat, dan disempurnakan. PDI Perjuangan akan berdiri di garis depan untuk menjaga hak Rakyat memilih pemimpinnya sendiri,” lanjutnya.

Putri Bung Karno itu juga mengingatkan agar demokrasi tidak dikorbankan demi alasan teknis semata. Menurut Megawati, efisiensi dan stabilitas tidak dapat dijadikan dalih untuk mengabaikan toleransi rakyat.

“Kita tidak akan membiarkan demokrasi dikerdilkan atas nama efisiensi, stabilitas, atau alasan-alasan teknokratis yang mengabaikan penghormatan Rakyat,” tekannya. 

Sebagai alternatif atas tingginya biaya politik, PDI Perjuangan mendukung transformasi sistem pemungutan suara dan menegakkan integritas penyelenggara. Partai berlambang moncong putih itu mendorong pemanfaatan teknologi untuk menekan anggaran tanpa mengurangi kualitas demokrasi.

Upaya-upaya itu dapat dilakukan melalui penerapan e-voting, penegakan hukum terhadap pelanggaran pemilu seperti politik uang, serta melakukan pencegahan pembiayaan rekomendasi calon atau mahar politik.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Gubernur Papua Tengah Bagikan 200 Laptop kepada Pelajar sebagai Percepat Transformasi Digital
Dibayangi Beban Utang Baru Rp1.650 Triliun, Purbaya: Tak Ada Alasan Ketakutan
Polemik bendera One Piece, ini tanggapan Presiden Prabowo
Gubernur Meki Nawipa Ultimatum ASN Papua Tengah; Harus Disiplin Waktu dan Kerja Nyata di Tahun 2026
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, melalui Plt. Assisten II Setda, menerima dokumen evaluasi terhadap perijinan Perkebunan kelapa sawit dari Pemprov Papua
MENJAGA HUTAN PAPUA DARI EKSPANSI SAWIT
Prabowo ingin tambah lahan sawit di Papua – Siapa yang akan paling dirugikan akibat kebijakan ini?
Kementerian Imigrasi menyiapkan satu jenis paspor nasional mulai tahun 2027
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 8 February 2026 - 13:50 WIT

Gubernur Papua Tengah Bagikan 200 Laptop kepada Pelajar sebagai Percepat Transformasi Digital

Sunday, 8 February 2026 - 13:23 WIT

Dibayangi Beban Utang Baru Rp1.650 Triliun, Purbaya: Tak Ada Alasan Ketakutan

Wednesday, 14 January 2026 - 10:45 WIT

Polemik bendera One Piece, ini tanggapan Presiden Prabowo

Sunday, 11 January 2026 - 03:48 WIT

Gubernur Meki Nawipa Ultimatum ASN Papua Tengah; Harus Disiplin Waktu dan Kerja Nyata di Tahun 2026

Sunday, 11 January 2026 - 03:45 WIT

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, melalui Plt. Assisten II Setda, menerima dokumen evaluasi terhadap perijinan Perkebunan kelapa sawit dari Pemprov Papua

Berita Terbaru

Bisnis

8 Agenda Prioritas Presiden Prabowo Subianto di 2026

Wednesday, 14 Jan 2026 - 14:44 WIT

Bandung

Breaking News! Tambang Emas di Bogor Dikabarkan Meledak

Wednesday, 14 Jan 2026 - 14:28 WIT

Ko Salin Apa?